SUKU BETAWI

Nama : Fairuz Rafida
NPM : 52415397
Kelas : 1IA02
TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERISTAS GUNADARMA
2015
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Puji Syukur kehadirat ALLAH SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “ Manusia sebagai Makhluk Hidup dan Makhluk Sosial” tepat pada waktunya.
Makalah ini menjelaskan tentang apa itu manusia dan interaksi sosial. Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun pembaca. Selesainya penulisan makalah ini berkat bantuan dari berbagai pihak, yang telah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk kepada penulis. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis berharap kritik dan saran dari para pembaca, guna menyempurnakan makalah ini.
A. Pendahuluan
Manusia dalam kehidupannya tidaklah bergantung pada diri sendiri. Setiap tindakan yang akan di lakukan seorang manusia, pasti berhubungan dan membutuhkan orang lain. manusia selain disebut sebagai makhluk individu, manusia juga disebut sebagai makhluk sosial. Manusia dengan kodratnya sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.
Manusia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya sendiri, melainkan manusia butuh tenaga dari orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kita tidak bisa melakukan sesuatu seenaknya sendiri, karena di sekitar kita juga ada orang lain yang pasti berhubungan dengan kita. Sering kita lihat dan kita alami, bagaimana sulitnya kita menjalani hidup tanpa orang lain yang menemani, anggap saja jika seseorang dikucilkan, maka ia akan terpuruk sendiri menyelesaikan masalahnya tanpa ada yang membantu. Kemudian dapat berujung pada terganggunya emosi dan psikisnya. Karena itu, betapa pentingnya peran orang lain di sekitar kita, baik untuk fisik, rohani maupun psikis kita.
B. Suku Betawi sebagai Makhluk Sosial
B.1. Sejarah Suku Betawi
Suku Betawi adalah sebuah suku bangsa di Indonesia yang penduduknya umumnya bertempat tinggal di Jakarta. Sejumlah pihak berpendapat bahwa Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Melayu, Jawa, Arab, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan Tionghoa. Namun pihak lain berpendapat bahwa Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa pada masa lalu ternyata tidak sepenuhnya benar karena eksistensi suku Betawi menurut sejarawan Sagiman MD telah ada serta mendiami Jakarta dan sekitarnya sejak zaman batu baru atau pada zaman Neoliticum, penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa sebagaimana orang Sunda, Jawa, dan Madura.
Pendapat Sagiman MD tersebut senada dengan Uka Tjandarasasmita yang mengeluarkan monografinya "Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran (1977)" mengungkapkan bahwa Penduduk Asli Jakarta telah ada pada sekitar tahun 3500 - 3000 sebelum masehi.
Namun menurut sebagian Peneliti yang sepaham dengan Lance Castles yang pernah meneliti tentang Penduduk Jakarta dimana Jurnal Penelitiannya diterbitkan tahun 1967 oleh Cornell University dikatakan bahwa secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Pada penelitiannya Lance Castles menitik beratkan pada empat sketsa sejarah yaitu:
1. Daghregister, yaitu catatan harian tahun 1673 yang dibuat Belanda yang berdiam di dalam kota benteng Batavia.
2. Catatan Thomas Stanford Raffles dalam History of Java pada tahun 1815.
3. Catatan penduduk pada Encyclopaedia van Nederlandsch Indie tahun 1893
4. Sensus penduduk yang dibuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930.
Dimana semua sketsa sejarahanya dimulai pada tahun 1673 (Pada Akhir Abad ke 17), sketsa inilah yang oleh sebagian ahli lainnya dirasakan kurang lengkap untuk menjelaskan asal mula Suku Betawi dikarenakan dalam abad Tanah Jawa yang ada pada abad ke 15 (tahun 1400-an Masehi) sudah ditemukan kata "Negeri Betawi". Suku Betawi secara geografis terletak di pulau Jawa, namun secara sosiokultural lebih dekat pada budaya Melayu Islam.
B.2. Etimologi Betawi Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Mengenai asal mula kata Betawi, menurut para ahli dan sejarahwan ada beberapa acuannya:
\ Pitawi (bahasa MelayuPolynesia Purba) yang artinya larangan.
Perkataan ini mengacu pada komplek bangunan yang dihormati di Batu Jaya. Sejarahwan Ridwan Saidi mengaitkan bahwa Kompleks Bangunan di Batu Jaya, Karawang merupakan sebuah Kota Suci yang tertutup, sementara Karawang, merupakan Kota yang terbuka.
\ Betawi (Bahasa Melayu Brunei)
Di mana kata "Betawi" digunakan untuk menyebut giwang. Nama ini mengacu pada ekskavasi di Babelan, Kabupaten Bekasi, yang banyak ditemukan giwang dari abad ke-11 M.
\ Flora guling Betawi (cassia glauca),
Famili papilionaceae yang merupakan jenis tanaman perdu yang kayunya bulat seperti guling dan mudah diraut serta kokoh. Dahulu kala jenis batang pohon Betawi banyak digunakan untuk pembuatan gagang senjata keris atau gagang pisau. Tanaman guling Betawi banyak tumbuh di Nusa Kelapa dan beberapa daerah di pulau Jawa dan Kalimantan. Sementara di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, guling Betawi disebut Kayu Bekawi. Ada perbedaan pengucapan kata "Betawi" dan "Bekawi" pada penggunaan kosakata "k" dan "t" antara Kapuas Hulu dan Betawi Melayu, pergeseran huruf tersebut biasa terjadi dalam bahasa Melayu.
Kemungkinan nama Betawi yang berasal dari jenis tanaman pepohonan ada kemungkinan benar. Menurut Sejarahwan Ridwan Saidi Pasalnya, beberapa nama jenis flora selama ini memang digunakan pada pemberian nama tempat atau daerah yang ada di Jakarta, seperti Gambir, Krekot, Bintaro, Grogol dan banyak lagi. "Seperti Kecamatan Makasar, nama ini tak ada hubungannya dengan orang Makassar, melainkan diambil dari jenis rerumputan"
Sehinga Kata "Betawi" bukanlah berasal dari kata "Batavia" (nama lama kotaJakarta pada masa Hindia Belanda), dikarenakan nama Batavia lebih merujuk kepada wilayah asal nenek moyang orang Belanda. Batavia merupakan nama Latin untuk tanah Batavia pada zaman Romawi. Perkiraan kasarnya berada sekitar kota Nijmegen, Belanda, dalam Kekaisaran Romawi. Sisa lahan ini kini dikenal sebagai Betuwe. Selama Renaisans, sejarawan Belanda mencoba untuk mempromosikan Batavia menjadi sebuah status "nenek moyang" dari orang-orang Belanda. Kemudian mereka mulai menyebut diri Orang-orang atau penduduk Batavia, kemudian hal tersebut mengakibatkan munculnya Republik Batavia, dan mengambil nama "Batavia" untuk koloni mereka seperti Hindia Belanda, dimana mereka mengganti nama menjadi dari Kota Jayakarta menjadi Batavia dari 1619 sampai sekitar 1942, ketika namanya diubah menjadi Djakarta (ini adalah kependekan dari nama mantan Jayakarta, kemudian diubah kembali ejaannya menjadi Jakarta). Nama itu (Batavia) juga digunakan di Suriname, di mana mereka mendirikan Batavia, Suriname, dan di Amerika Serikat di mana mereka mendirikan kota dan kota Batavia, New York. Nama ini menyebar lebih jauh ke barat di Amerika Serikat untuk tempat-tempat seperti Batavia, Illinois, dekat Chicago, dan Batavia, Ohio.
Kemudian penggunaan kata Betawi sebagai sebuah suku yang pada masa hindia belanda, diawali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama Pemoeda Kaoem Betawi yang lahir pada tahun 1923.
B.3. Seni dan Kebudayaan
Seni dan Budaya asli Penduduk Jakarta atau Betawi dapat dilihat dari temuan arkeologis, semisal giwang-giwang yang ditemukan dalam penggalian di Babelan, Kabupaten Bekasi yang berasal dari abad ke 11 masehi. Selain itu budaya Betawi juga terjadi dari proses campuran budaya antara suku asli dengan dari beragam etnis pendatang atau yang biasa dikenal dengan istilah Mestizo. Sejak zaman dahulu, wilayah bekas kerajaan Salakanagara atau kemudian dikenal dengan "Kalapa" (sekarang Jakarta) merupakan wilayah yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara, Percampuran budaya juga datang pada masa Kepemimpinan Raja Pajajaran, Prabu Surawisesa dimana Prabu Surawisesa mengadakan perjanjian dengan Portugal dan dari hasil percampuran budaya antara Penduduk asli dan Portugal inilah lahir Keroncong Tugu.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.
B.4. Bahasa
Sifat campur-aduk dalam bahasa Betawi atau Melayu Dialek Jakarta atau Melayu Batavia adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil dari asimilasi kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar "Kalapa" (sekarang Jakarta) juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau penduduk asli Betawi yang pada awalnya berbahasa Kawi dan mendiami daerah sekitar pelabuhan Sunda Kalapa (jauh sebelum Sumpah Pemuda) sudah menggunakanbahasa Melayu, bahkan ada juga yang mengatakan suku lainnya semisal suku Sunda yang mendiami wilayah inipun juga ikut menggunakan Bahasa Melayu yang umum digunakan di Sumatera dan Kalimantan Barat, penggunaan bahasa ini dikarenakan semakin banyaknya pendatang dari wilayah Melayu lainnya semisal Kalimantan Barat dikarenakan dianggap abainya Syailendra ketika dimintai tolong oleh Sriwijaya untuk menjaga wilayah perairan laut sebelah barat Sungai Cimanuk sebagai hasil Perjanjian Damai Sriwijaya - Kediri yang dimediasi oleh China yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Karena perbedaan bahasa yang digunakan antara suku Betawi dengan suku Sunda diwilayah lainnya tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi. Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.
Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi. Dialek Betawi sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu dialek Betawi tengah dan dialek Betawi pinggir. Dialek Betawi tengah umumnya berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi pinggir adalah "a". Dialek Betawi pusat atau tengah seringkali dianggap sebagai dialek Betawi sejati, karena berasal dari tempat bermulanya kota Jakarta, yakni daerah perkampungan Betawi di sekitar Jakarta Kota, Sawah Besar, Tugu, Cilincing, Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan di Meester (Jatinegara). Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara ke Selatan, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga ke pinggir selatan hingga Jawa Barat. Contoh penutur dialek Betawi tengah adalah Benyamin S., Ida Royani dan Aminah Cendrakasih, karena mereka memang berasal dari daerah Kemayoran dan Kramat Sentiong. Sedangkan contoh penutur dialek Betawi pinggiran adalah Mandra dan Pak Tile. Contoh paling jelas adalah saat mereka mengucapkan kenape/kenapa'' (mengapa). Dialek Betawi tengah jelas menyebutkan "é", sedangkan Betawi pinggir bernada "a" keras mati seperti "ain" mati dalam cara baca mengaji Al Quran.
B.5. Kepercayaan
Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
B.6. Profesi
Di Jakarta, orang Betawi sekarang sebagai hasil asimilasi antar suku bangsa, sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.
Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.
Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu program Ganefo yang dicetuskan oleh Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Karena salah satu asal-muasal berkembangnya suku Betawi adalah dari asimilasi (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.
B.7. Perilaku dan Sifat
Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo Gubernur DKI Jakarta (2007 - 2012) .
Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta. Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca: Jakarta). Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.
C. Manusia sebagai Makhluk Individu dan sebagai Anggota Masyarakat
a. Manusia sebagai Makhluk Individu
Dalam bahasa Latin individu berasal dari kata individuum, artinya tak terbagi. Dalam bahasa Inggris Individu berasal dari kata in dan divided. Kata in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan divided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan. Namun individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan (Setiadi dkk, 2008).
Individu adalah manusia yang memiliki kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia “perseorangan” atau “orang seorang” yang memiliki keunikan. Setiap manusia memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Sekalipun orang itu terlahir secara kembar, mereka tidak ada yang memiliki ciri fisik dan psikis yang persis sama. Setiap anggota fisik manusia tidak ada yang persis sama, meskipun sama-sama terlahir sebagai manusia kembar (Setiadi dkk, 2008).
Setiap manusia memiliki ciri khas yang berbeda. Baik itu ciri fisik maupun ciri psikisnya. Tidak mungkin seorang manusia memiliki ciri khas yang sama persis dengan orang lain. bahkan seseorang yang di katakan kembar identik pun pasti memiliki ciri khas yang berbeda, misal dari sidik jarinya. Keunikan dan ciri khas masing-masing orang itulah yang dijadikan faktor pembeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.
Walaupun secara umum manusia itu memiliki perangkat fisik yang sama, tetapi kalau perhatian kita tujukan pada hal yang lebih detail, maka akan terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan itu terletak pada bentuk, ukuran, sifat, dan lain-lainnya. Kita dapat membedakan seseorang dari orang lainnya berdasarkan perbedaan-perbedaan yang ada, baik pada perbedaan fisik maupun psikis. Begitu pula dalam kumpulan atau kerumunan ribuan atau jutaan manusia, kita tetap dapat mengenali seseorang yang sudah kita kenal karena memiliki ciri fisik yang sudah kita kenal. Seperti di tengah-tengah pasar yang penuh orang atau di lapangan di mana berkumpul ribuan orang, kita akan dapat mengenali orang yang sudah kita kenal. Sebaliknya, bila hal terjadi pada kumpulan atau kerumunan hewan atau binatang, sulit bagi kita untuk mengenali satu hewan di tengah ribuan hewan yang sejenis (Suratman dkk, 2013).
Ciri-ciri seseorang tidak hanya bisa dilihat melalui fisiknya saja, tetapi juga dapat dilihat dari sifatnya dan karakter seseorang tersebut. Jika dilihat dari fisiknya, seseorang dapat dibedakan menjadi orang yang gemuk, orang yang kurus, tinggi, langsing, pendek, mancung, tidak mancung, bermata sipit, bermata bundar, berkulit putih, hitam atau berkulit sawo matang. Jika dilihat dari sifatnya, seseorang dapat dibedakan menjadi orang yang penyabar, pendiam, cerewet, sombong, pemalas, rajin dan lainnya.
b. Manusia sebagai Anggota Masyarakat
Manusia saat dilahirkan seorang diri, tetapi manusia akhirnya harus bermasyarakat. Manusia tidak sama seperti makhluk lainnya, misalnya hewan. Hewan tidak membutuhkan pertolongan hewan lainnya untuk dapat hidup. Sejak hewan masih kecil, ia sudah dapat mencari makanannya sendiri. Ia sudah dapat berjalan sendiri, dan pergi kemanapun. Karena hewan dibekali naluri kehewanannya dan alat-alat fisik yang dapat menunjang kemandiriannya untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
Tetapi manusia tidak demikian, saat manusia masih baru dilahirkan, ia tidak dapat melakukan aktivitasnya seorang diri. Ia tidak dapat langsung berjalan sendiri dan mencari makanannya sendiri. Harus ada peran orang lain yang membantunya beraktivitas dan mencarikan makanan untuknya. Manusia tidak dibekali dengan alat-alat fisik seperti pada hewan. Tetapi manusia dibekali fikiran dan akal yang jauh lebih sempurna dibandingkan hewan. Dengan akal fikiran manusia bisa memanfaatkannya untuk mencari alat-alat yang diperlukan untuk memenuhi kehidupannya. Jadi dengan akal yang dimilikinya, manusia dapat menciptakan alat-alat yang suatu saat dapat digunakan untuk kepentingan atau kelangsungan hidupnya.
Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia tidak terlepas dari pengaruh orang lain. dalam mencukupi kebutuhannya manusia membutuhkan orang lain. Dalam lingkungan sosialnya misalnya dalam pergaulannya, manusia membutuhkan orang lain. Dari sejak manusia terlahir ke muka bumi, manusia membutuhkan peran orang lain. Seperti saat seorang wanita yang hendak melahirkan, ia butuh dokter atau bidan untuk keperluan kelahirannya. Saat sang bayi telah terlahir, ia membutuhkan ibunya untuk memberikannya makanan berupa ASI. Seseorang yang ingin mencari makanan juga membutuhkan orang lain, seperti para pedagang. Para pedagang juga membutuhkan orang lain untuk mencarikan bahan dagangannya, misalnya saja petani, nelayan atau peternak. Semuanya saling berhubungan dan saling ketergantungan satu dengan yang lain. Maka seseorang tentu tidak bisa melaksanakan aktivitasnya secara total hanya seorang diri, melainkan membutuhkan tenaga orang lain.
Sebagai anggota masyarakat, setiap orang akan mengenal orang lain, dan oleh karena itu perilaku manusia selalu terkait dengan orang lain. perilaku manusia dipengaruhi orang lain, ia melakukan sesuatu dipengaruhi faktor dari luar dirinya, seperti tunduk pada aturan, tunduk pada norma masyarakat, dan keinginan mendapat respons positif dari orang lain (pujian) (Suratman dkk, 2013).
Karena manusia adalah makhluk sosial, mereka berinteraksi dengan yang lain. tetapi tidak selamanya interaksi itu berjalan dengan baik, terkadang menimbulkan hal-hal lain yang negatif. Dalam hubungan antar anggota dan kelompok masyarakat, kita sering dihadapkan dengan perbedaan-perbedaan. Misalnya, orang Jawa memiliki kebiasaan dan sifat-sifat yang khas, orang Sunda, Batak, Ambon, Padang dan yang lainnya juga begitu. Terkadang ada sikap negatif yang diperlihatkan oleh satu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lainnya. Sikap khas yang sering ditampilkan itu disebut prasangka (Setiadi dkk, 2008).
Prasangka merupakan suatu istilah yang mempunyai berbagai makna. Namun dalam kaitannya dengan hubungan antar kelompok, istilah ini mengacu pada sikap permusuhan yang ditujukan terhadap suatu kelompok tertentu atas dasar dugaan bahwa kelompok tersebut mempunyai ciri-ciri yang tidak menyenangkan. Sikap ini dinamakan prasangka, sebab dugaan yang dianut orang yang berprasangka tidak didasarkan pada pengetahuan, pengalaman ataupun bukti-bukti yang cukup memadai. Orang yang berprasangka bersifat tidak rasional dan berada di bawah sadar sehingga sukar diubah, meskipun orang yang berprasangka tersebut diberi penyuluhan, pendidikan atau bukti-bukti yang menyangkal kebenaran prasangka yang dianut (Suratman dkk, 2013).
Hakekat Masyarakat dan Makna Manusia sebagai Makhluk Sosial
Dalam bahasa Inggris kata masyarakat disebut society, asal katanya socius yang berarti kawan. Adapun kata masyarakat berasal dari bahasa Arab yaitu syirk, artinya bergaul. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk-bentuk aturan hidup yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan, melainkan oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan (Soelaeman, 1989).
Dalam masyarakat manusia tidaklah dapat hidup sendiri. Mereka hidup berinteraksi dengan orang lain. Dalam interaksi itulah manusia harusnya memiliki suatu etika hidup bermasyarakat. Etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Nilai erat hubungannya dengan masyarakat, baik dalam bidang etika yang mengatur kehidupan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai sebagai suatu yang objektif, apabila ia memandang nilai itu ada tanpa ada yang menilainya, tetapi ada sebagian sesuatu yang ada dan menuntun manusia dan kehidupannya. Jadi nilai memang tidak akan ada dan tidak akan hadir tanpa hadirnya penilaian. Oleh karena itu nilai melekat dengan subjek penilaian (Hartomo, 1997).
Unsur masyarakat yang melekat adalah kebudayaan. Dimana budaya yang timbul dalam masyarakat dapat berupa tradisi, nilai, norma, upacara-upacara yang sudah melekat dalam interaksi sosial warga masyarakat. Manusia sejak ia lahir selalu terikat dengan masyarakat. Masyarakat di sini dapat dihitung dari konteks masalah lingkungan. Sejak lahir manusia akan selalu berkaitan dengan lingkungan sekitarnya. Setiap masyarakat akan menerima pengaruh dari lingkungan sosial yang disebut masyarakat.
Penyebab manusia hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain yaitu karena seseorang harus bergaul dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan itu dapat terwujud manakala seorang individu berbicara, berinteraksi dan saling berhubungan dengan masyarakat lain agar terciptanya lingkungan sosial atau interaksi sosial dalam masyarakat.
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain. Unsur saling memerlukan muncul karena setiap manusia sebagai anggota masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tanpa bantuan anggota lainnya. Jadi ada saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya. Dan disinilah sesungguhnya makna manusia sebagai makhluk sosial (Suratman dkk, 2013).
Faktor-faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial yaitu:
a) Faktor imitasi (peniruan)
Imitasi adalah proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan, gaya hidup atau apa saja yang dimiliki oleh orang lain tersebut. Misalnya seorang anak meniru kebiasaan-kebiasaan orang tuanya, baik cara berbicara atau tutur kata, cara berjalan, cara berpakaian dan sebagainya. Proses imitasi yang dilakukan oleh seseorang berkembang dari lingkup keluarga kepada lingkup lingkungan yang lebih luas, seperti lingkungan tetangga, lingkungan sekolah dan lingkungan kerja, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan pergaulan orang tersebut. ruang lingkup imitasi menjadi semakin luas seiring dengan berkembangnya media massa terutama media audio-visual (Herimanto, 2011).
Proses imitasi dapat berlangsung terhadap hal-hal yang positif maupun negatif, maka pengaruhnya terhadap interaksi sosial juga dapat positif maupun negatif. Apabila imitasi berlangsung terhadap cara-cara atau hal-hal yang positif maka akan menghasilkan interaksi sosial yang berlangsung dalam keteraturan, sebaliknya apabila imitasi berlangsung terhadap cara-cara atau hal-hal yang negatif, maka akan berperan besar terhadap munculnya proses-proses interaksi sosial yang negatif (Herimanto, 2011).
b) Identifikasi (menyamakan ciri)
Identifikasi adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menjadi sama (identik) dengan seseorang atau sekelompok orang lain. Identifikasi dapat dinyatakan sebagai proses yang lebih dalam atau lebih lanjut dari imitasi. Apabila pada imitasi orang hanya meniru cara yang dilakukan oleh orang lain, maka dalam identifikasi ini orang tidak hanya meniru tetapi mengidentikkan dirinya dengan orang lain tersebut. dalam identifikasi yang terjadi tidak sekedar peniruan pola atau cara, namun melibatkan proses kejiwaan yang dalam (Herimanto, 2011).
c) Sugesti (diterimanya suatu sikap atau tindakan secara emosional)
Sugesti adalah rangsangan, pengaruh atau stimulus yang diberikan oleh seseorang kepada individu lain sehingga orang yang dipengaruhi tersebut menerima pengaruh tersebut secara emosional, tanpa berfikir lagi secara kritis dan rasional. Sugesti dapat diberikan dari seorang individu kepada kelompok, kelompok kepada individu ataupun kelompok terhadap kelompok. Wujud sugesti dapat bermacam-macam, dapat berupa tindakan, sikap perilaku, pendapat, saran dan pemikiran (Herimanto, 2011).
d). Simpati (kemampuan merasakan diri dalam keadaan orang lain)
Simpati adalah suatu proses ketika seorang individu atau sekelompok individu tertarik kepada (merasakan diri) dalam keadaan orang atau kelompok orang lain sedemikian rupa sehingga menyentuh jiwa dan perasaannya. Dinyatakan sedemikian rupa karena dapat terjadi bagi jiwa dan perasaan orang lain, keadaan tersebut biasa-biasa saja, artinya tidak menimbulkan simpati. Karena merupakan proses kejiwaan, berlangsungnya tidak selalu mudah dipahami secara rasional (Herimanto, 2011).
Fungsi dan Tugas Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia tidak hanya memiliki ciri khas, peranan khas tetapi juga memiliki pola tingkah laku yang spesifik baik di lingkungan masyarakat atau di lingkungan keluarga. Keluarga adalah wadah dimana seorang individu mempunyai suatu hubungan sosial di dalamnya. Keluarga tersebut terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak mereka. Keluarga merupakan lembaga pertama yang menjadi wadah utama dalam pembinaan seorang individu. Dimana pola perilaku seorang individu akan tercermin dari perlakuan seorang individu bagaimana diperlakukan di dalam keluarganya.
Menurut William J Goode (1983) dalam Munandar Soelaeman, secara umum fungsi keluarga meliputi pengaturan seksual, reproduksi, sosialisasi, pemeliharaan, penempatan anak dalam masyarakat, pemuas kebutuhan perseorangan dan sebagai kontrol sosial (Soelaeman, 1989).
a) Pengaturan Seksual
Seperti yang dapat diketahui, kita dapat membayangkan bagaimana seorang anak yang lahir ke dunia ini tanpa seorang ayah, maksudnya disini tanpa seorang ayah yang sah. Tentu saja anak tersebut akan dipertanyakan dan pengalaman sosialisasinya tidak lengkap. Maka dari itu, di dalam masyarakat tidak dibenarkan adanya kelahiran di luar nikah. Oleh karena itu, maka akan menambah kerumitan dalam masyarakat jika tidak ada pengaturan seksual yang berlaku.
b) Reproduksi
berkembangnya teknologi kedokteran, selain memberikan dampak positif bagi program keluarga berencana, dapat pula menimbulkan masalah terpisahnya kepuasan seksual dengan pembiakan. Pandangan terhadap jumlah punya anak bermacam-macam, ada yang mengharapkan untuk jaminan bagi orang tua di masa depan, ada yang bermotivasi agama, ada alasan kesehatan dan sebagainya. Yang jelas, di suatu negara, bila alat kontraseptif mudah diperoleh dan banyak digunakan, ada keengganan untuk mempunyai anak, dan angka senggama sebelum pernikahan menjadi meningkat (Suratman dkk, 2013).
c) Sosialisasi
Masyarakat dan kebudayaan bergantung pada efektifnya sosialisasi di dalamnya, bagaimana seorang anak mempelajari sikap dan tingkah lakunya, bergantung juga pada kebudayaan di dalam keluarganya. Di dalam hubungan sosialisasi anak dengan keluarganya, dari situlah anak memperoleh landasan untuk membentuk kepribadian dan sikap serta perilaku sang anak tersebut. dan itu semua juga berhubungan dengan kebudayaan yang di anut dan di lestarikan dalam suatu keluarga dan masyarakat tersebut.
d) Pemeliharaan
Seorang wanita yang sedang hamil butuh perhatian, perlindungan dan pemeliharaan dalam rangka menjaga kondisinya agar siap untuk melahirkan seorang anak ke dunia. Begitu pula seorang anak yang telah lahir, ia membutuhkan kasih sayang dan pemeliharaan dari orang tuanya. Tanpa pemeliharaan dari orang tuanya, maka anak tidak akan dapat tumbuh sendiri. Manusia berbeda dari hewan yang dapat berdiri dan langsung mencari makanannya sendiri sejak ia baru di lahirkan. Manusia butuh orang lain dalam pemenuhan kebutuhan dan kelangsungan hidupnya. Maka tahap demi tahap manusia baru dapat berjalan dan akhirnya dewasa, dan itu pula tidak lepas dari peran orang lain di sekitarnya.
e) Penempatan Anak di dalam Masyarakat
Dengan menentukan penempatan sosial seorang anak, pengaturan wewenang membantu menentukan kewajiban peranan orang-orang dewasa terhadap sang anak. Penempatan sosial ditetapkan oleh masyarakat atas dasar keanggotaan keluarga melalui pemberian orientasi hubungan seperti orang tua, saudara kandung, dan kerabat. Berikutnya penempatan sosial melalui orientasi individu pada kelompok lain yang secara sosial telah mapan, seperti hubungan nasional, etnik, agama, organisasi masyarakat, kelas dan sebagainya (Suratman dkk, 2013).
f) Pemuas Kebutuhan Perseorangan
Sebuah keluarga belum lengkap jika belum mempunyai seorang anak. Anak menjadikan hubungan suami istri dalam suatu keluarga menjadi lebih erat dengan cinta kasih yang di bawa oleh sang anak. Bagaimana anak dilahirkan tanpa seorang ayah yang sah, maka anak tersebut akan mengalami penderitaan yang seharusnya tidak pantas ia yang merasakan. Seorang anak juga dapat memberikan kepuasan emosional di antara kedua orang tuanya. Kasih sayang kedua orang tua juga dapat memberikan kepuasan emosional dalam diri sang anak.
g) Kontrol Sosial
Keluarga menjadi wadah utama dalam pembentukan karakter seorang anak, bagaimana ia akan bersikap dan berperilaku di luar lingkungan keluarganya. Maka kontrol sosial keluarga dalam arti seorang ayah dan seorang ibu sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak akan menjadi generasi penerus pada masa yang akan datang. Maka orang tua yang tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya dalam mendidik anaknya, maka anak tersebut tidak akan berperilaku dengan baik, karena keluarga sebagai suatu wadah pendidikan pertama dalam membentuk karakter anak dalam pergaulannya nanti di lingkungan masyarakat.
h) Bermasyarakat dalam Berbagai Jenis Kehidupan
Dalam kehidupan masyarakat dikenal adanya struktur sosial, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial. Struktur sosial yaitu tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.
Sistem sosial merupakan kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian (elemen atau komponen), yaitu:
a) Orang dan atau kelompok beserta kegiatannya.
b) Hubungan sosial, termasuk di dalamnya norma-norma, dan nilai-nilai yang mengatur hubungan antar orang atau kelompok tersebut. sistem sosial tercakup nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan aturan perilaku anggota-anggota masyarakat. Dalam sistem sosial pada tingkat-tingkat tertentu selalu mempertahankan batas-batas yang memisahkan dan membedakan dari lingkungannya.
Setiap individu adalah anggota dari suatu kelompok. Tetapi tidak setiap warga dari suatu masyarakat hanya menjadi anggota dari satu kelompok tertentu, ia bisa menjadi anggota lebih dari satu kelompok sosial. Berkaitan dengan penempatan individu dalam kelompok sosial, maka individu memiliki kemampuan untuk:
1) Menempatkan diri, dan
2) Ditempatkan oleh orang lain dalam suatu lapisan sosial ekonomi tertentu.
Penempatan seseorang dalam lapisan sosial ekonomi tertentu merupakan pembahasan stratifikasi sosial. Dalam kaitannya dengan stratifikasi sosial, dapat dibagi dalam tiga dimensi, yaitu dimensi kekayaan, dimensi kekuasaan, dan dimensi prestise. Dimensi kekayaan membentuk formasi sosial yang disebut kelas, dimensi kekuasaan membentuk partai, dan dimensi prestise membentuk status (Suratman dkk, 2013).
D. Kesimpulan
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Di sisi manapun sebagai makhluk sosial dan makhluk individu, akan ada pengaruh positif maupun negatifnya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat melakukan segala aktivitasnya seorang diri. manusia butuh manusia lain untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Sebagai anggota masyarakat, manusia akan berkaitan dengan orang lain. manusia hidup bersama orang lain. itu berarti manusia tidak dapat melakukan tindakan sesuka hatinya karena ada orang lain yang menilai perilaku seorang manusia. Baik buruknya perilaku manusia ditentukan juga dari faktor lingkungan sosialnya, terutama lingkungan keluarganya. Karena keluarga merupakan dasar seorang anak bersikap dan berperilaku. Keluarga adalah wadah pertama yang menanamkan nilai moral seorang anak. Maka sikap dan perilaku seorang anak adalah cerminan dari bagaimana anak tersebut dibesarkan dalam suatu wadah keluarga untuk kelangsungan hidupnya di lingkungan masyarakat.
E. Daftar Pustaka
Hartomo, 1997, Ilmu Sosial Dasar, Bumi Aksara: Jakarta
Herinanto, 2011, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Bumi Aksara: Jakarta
Setiadi, Elly M. dkk, 2008, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Kencana Prenada Media Group: Jakarta
Suratman dkk, 2013, Ilmu Sosial dan Budaya dasar, Malang Intimedia: Malang
Soelaeman, Munandar, 1989, Ilmu Sosial Dasar, PT Eresco: Bandung
0 comments:
Posting Komentar