TIK mempunyai potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan dalam
dunia pendidikan. Pada blue print TIK Depdiknas, stidak-tidaknya
disebutkan ada tujuh fungsi TIK dalam pendidikan, yakni sebagai sumber
belajar, alat bantu belajar, fasilitas pembelajaran, standard
kompetensi, sistem administrasi, pendukung keputusan, sebagai
infrastruktur.
e-Learning
Salah satu kosa kata yang muncul dan populer bersamaan dengan
hadirnya TIK dalam dunia pembelajaran adalah elearning. Elearning
merupakan kependekan dari elektronik learning. Secara generik elearning
berarti belajar dengan menggunakan elektronik. Kata elektronik sendiri
mengandung pengertian yang spesifik yakni komputer atau internet,
sehinga elearning sering diartikan sebagai proses belajar yang
menggunakan komputer atau internet.
Sesungguhnya pengertian elearning sendiri mempunyai makna yang sangat
luas dan masih dipersepsikan secara berbeda-beda. Pengertian elearning
mencakup sebuah garis kontinum dari mulai menambahkan komputer dalam
proses belajar sampai dengan pembelajaran berbasis web. Sebuah kelas
yang dilengkapi dengan satu unit komputer untuk memutar sebuah CD
pembelajaran interaktif, dalam batasan yang minimal telah dapat
disebutkan bahwa kelas tersebut telah menerapkan elearning. Namun
menurut batasan UNESCO, elearning paling tidak harus didukung oleh
sejumlah syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu mencakup; ketersediaan
software bahan belajar berbasis TIK, ketersediaan software aplikasi
untuk menjalankan pengelolaan proses pembelajaran tersebut, adanya SDM
guru dan tenaga penunjang yang menguasai TIK, adanya infrastruktur TIK,
adanya akses internet, adanya dukungan training, riset, dukungan daya
listrik, serta dukungan kebijakan pendayagunaan TIK untuk pembelajaran.
Apabila elemen-elemen tersebut telah tersedia, maka program dan
pengelolaan elearning akan dapat dijalankan.
Software Bahan Ajar
Teknologi selalu mencakup hardware dan software. Hardware akan
berguna apabila tersedia software di dalamnya, demikian pula sebaliknya
software baru akan dapat bermanfaat apabila ada hardware yang
menjalankannya.
Software dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu software
operating sistem (OS), software aplikasi, dan software data atau konten.
OS adalah software yang berfungsi sebagai sistem operasi, seperti DOS,
Windows, Linux, dan Unix. Aplikasi adalah software yang digunakan untuk
membangun atau menjalankan proses sesuai dengan perintah-perintah
pemrograman, misalnya office, LMS, CMS, dll. Sedangkan data atau bahan
ajar termasuk ke dalam kelompok software konten, misalnya bahan ajar
baik berupa teks, audio, gambar, video, animasi, dll.
Dalam pengertian yang paling sederhana, suatu proses belajar akan
terjadi apabila tersedia sekurang-kurangnya dua unsur, yakni orang yang
belajar dan sumber belajar. Sumber belajar mencakup orang (nara sumber),
alat (hardware), bahan (software), lingkungan (latar, setting), dll.
Bahan ajar adalah salah satu jenis dari sumber belajar.
Bahan belajar merupakan elemen penting dalam elearning. Tidak ada
elearning tanpa ketersediaan bahan belajar. Untuk itu, maka kemampuan
seorang guru dalam mengembangkan bahan belajar berbasis web menjadi
sangat penting.
Jenis Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk konten baik teks, audio, foto, video,
animasi, dll yang dapat digunakan untuk belajar. Ditinjau dari
subjeknya, bahan ajar dapat dikatogorikan menjadi dua jenis, yakni bahan
ajar yang sengaja dirancang untuk belajar dan bahan yang tidak
dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Banyak bahan yang
tidak dirancang untuk belajar, namun dapat digunakan untuk belajar,
misalnya kliping koran, film, sinetron, iklan, berita, dll. Karena
sifatnya yang tidak dirancang, maka pemanfaatan bahan ajar seperti ini
perlu diseleksi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Bahan belajar yang dirancang adalah bahan yang dengan sengaja
disiapkan untuk keperluan belajar. Ditinjau dari sisi fungsinya, bahan
ajar yang dirancang dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu
bahan presentasi, bahan referensi, dan bahan belajar mandiri. Sedangkan
ditinjau dari media, bahan ajar dapat kelompokkan menjadi bahan ajar
cetak, audio, video, televisi, multimedia, dan web.
Sekurang-kurangnya ada empat ciri bahan ajar yang sengaja dirancang,
yakni adanya tujuan yang jelas, ada sajian materi, ada petunjuk belajar,
dan ada evaluasi keberhasilan belajar.
Bahan ajar berbasis web
Sebagaimana sebutannya, bahan ajar berbasis web adalah bahan ajar
yang disiapkan, dijalankan, dan dimanfaatkan dengan media web. Bahan
ajar sering juga disebut bahan ajar berbasis internet atau bahan ajar on
line. Terdapat tiga karakteristik utama yang merupakan potensi besar
bahan ajar berbasis web, yakni;
- menyajikan multimedia
- menyimpan, mengolah, dan menyajikan infromasi
- hyperlink
Karena sifatnya yang on line, maka bahan ajar berbasis web mempunyai
karakteristik khusus sesuai dengan karakteristik web itu sendiri. Salah
satu karakteristik yang paling menonjol adalah adanya fasilitas
hyperlink. Hyperlink memungkinkan sesuatu subjek nge-link ke subjek lain
tanpa ada batasan fisik dan geografis, selama subjek yang bersangkutan
tersedia pada web. Dengan adanya fasilitas hyperlink maka sumber belajar
menjadi sangat kaya. Search engine sangat membantu untuk mencari subjek
yang dapat dijadikan link.
Unsur-unsur bahan ajar
Bahan ajar setidak tidaknya harus memiliki enam unsur, yaitu mencakup
tujuan, sasaran, uraian materi, sistematika sajian, petunjuk belajar,
dan evaluasi. Sebuah bahan ajar harus mempunyai tujuan. Tujuan harus
dirumuskan secara jelas dan terukur mencakup kriteria ABCD (audience,
behavior, criterion, dan degree). Sasaran perlu dirumuskan secara
spesifik, untuk siapa bahan relajar itu ditujukan. Sasaran bukan sekedar
mengandung pernyataan subjek orang, Namur juga harus mencakup kemampuan
apa yang menjadi prasyarat yang harus sudah mereka kuasai agar dapat
memahami bahan ajar ini.
Langkah-langkah pengembangan
Secara makro, pengembangan bahan ajar mencakup langkah-langkah
analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, implementasi dan
evaluasi. Secara mikro, langkah-langkah pengembangan bahan ajar berbasis
web dimulai dari penentuan sasaran, pemilihan topik, pembuatan peta
materi, perumusan tujuan, penyusunan alat evaluasi, pengumpulan
referensi, penyusunan bahan, editing, upload, dan testing.
Penentuan sasaran
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyusun sebuah bahan ajar
adalah menentukan secara jelas siapa sasaran bahan ajar tersebut. Di
dalam kelas konvensional, sasaran telah sangat terstruktur, misalnya
siswa kelas dua SMA semester pertama. Pernyataan tersebut telah
mengandung indikasi yang jelas tentang siapa mereka, kemampuan apa yang
harus mereka kuasai, serta di mana kedudukan bahan belajar yang akan
disajikan dalam keseluruhan kurikulum sekolah. Demikian pula pada
penyusunan bahan belajar berbasis web sasaran harus dicantumkan secara
spesifik.
Pemilihan topik
Setelah sasaran ditentukan, langkah selanjutnya adalah memilih topik
yang sesuai dengan kebutuhan sasaran tersebut. Pemilihan topik dapat
dilakukan dengan pertimbangan, antara lain; materi sulit, penting
diketahui, bermanfaat, merupakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum
banyak diketahui, atau bahasan dari sudut pandang lain, dll.
Pembuatan peta materi
Peta materi sangat membantu dalam merumuskan keluasan dan kedalaman
materi yang akan dibahas. Membuat peta materi dapat diibaratkan
menggambar sebuah batang pohon yang bercabang dan beranting, semakin
banyak cabang maka semakin luas bahasan materi. Sedangkan apabila kita
menghendaki bahasan yang fokus dan spesifik, maka kembangkanlah bagian
ranting-ranting.
Perumusan tujuan
Gambar peta materi akan sangat bermanfaat untuk menentukan tujuan.
Setiap ranting dapat dirumuskan menjadi sebuah indikator tujuan yang
spesifik. Sedangkan cabang menjadi besaran tujuan tersebut. Tujuan besar
(cabang) dapat dicapai dengan memenuhi semua tujuan yang spesifik
(ranting).
Penyusunan alat evaluasi
Setelah merumuskan tujuan, langsung diikuti dengan perumusan alat
evaluasi. Alat evaluasi dimaksudkan untuk mejawab dengan cara bagaimana
kita dapat mengetahui sesuatu tujuan itu telah tercapai. Setiap
indikator tujuan harus dapat diukur keberhasilannya. Sebuah rumusan
tujuan dapat diukur dengan satu butir alat evaluasi. Dapat satu set
alat evaluasi mengukur serangkai tujuan. Misalnya kita merumuskan tujuan
?mampu mengendari sepeda motor?, maka alat evaluasi yang mungkin adalah
lembar observasi tentang kemampuan mengendarai sepeda motor.
Pengumpulan referensi
Tidak ada bahan ajar yang berdiri sendiri tanpa sumber referensi.
Referensi digunakan untuk memberi dukungan teoretis, data, fakta,
ataupun pendapat. Referensi juga dapat memperkaya khasanah bahan
belajar, sehingga pembaca yang menginginkan pendalaman materi yang
dibahas dapat mencari dari sumber yang disebutkan. Dalam web, pembaca
dapat dengan mudah diberikan link ke sumber referensi tersebut.
Penyusunan bahan
Setelah bahan-bahan pendukung siap, maka penulisan dapat dimulai.
Penulisan bahan hendaklah konsisten dengan peta materi dan tujuan yang
telah disusun. Secara umum struktur penulisan sekurang-kurangnya terdiri
dari tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi, dan penutupan. Pada
pendahuluan kita harus sudah menyampaikan secara ringkas apa yang akan
dibahas pada bahan belajar ini. Sedangkan bagian isi menguraikan secara
gamblang seluruh materi. Agar lebih jelas, uraian bisa dilengkapi dengan
contoh-contoh. Untuk mengecek pemahaman, pada bagian ini dapat pula
diberikan latihan-latihan. Pada bagaian penutup sampaikan kembali secara
ringkas apa yang telah dibahas. Proses selanjutnya adalah editing,
upload, dan testing.
Jumat, 14 April 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comments:
Posting Komentar